Posts Tagged ‘demo’

Supir Taksi Demo di Tanjung Priok

20 September 2010

foto Foto:  TEMPO/Panca Syurkani

Jakarta – Sebanyak dua ratus supir taksi berencana melakukan aksi unjuk rasa di PT Transport Nusantara Indonesia, Jalan Danau Sunter Utara Raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pukul 09.00 WIB nanti.

Padahal, Jalan R.E. Martadinata, Tanjung Priok, yang ambles sedalam 7 meter dan sepanjang 103 meter sudah ditutup sejak Kamis pekan lalu. Demonstrasi digelar untuk menuntut pencairan dana iuran surcharge serta kejelasan status mobil setelah supir membayar pendaftaran dan cicilan selama 5 tahun.

“Kemacetan lalu lintas akan kami antisipasi karena Jalan Danau Sunter Raya adalah jalan alternatif utama dari Jalan RE Martadinata,” kata Kepala Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Jakarta Utara Komisaris Irvan Prawiraputra kepada Tempo pagi ini.

Para pengunjuk rasa adalah pengemudi Taksi Trans Cab yang tergabung dalam SBSI. Dalam unjuk rasa mereka dipimpin oleh Budiman Ujung. Menurut Irvan, massa berkumpul di Jalan Bojong Raya RT 13/RW 04 Kelurahan Rawabuaya, Cengkareng, Jakarta Barat. “encananya, massa membawa taksi masing-masing. “Mereka sepakat akan berunjuk rasa dengan tertib dan tidak anarkis.”

Dicomot dari: Tempo Interaktif

Iklan

Sweeping Taksi, 21 Mobil Dirusak

8 Juni 2010

 Liputan6.com, Bali: Ratusan sopir taksi lokal yang tergabung dalam Paguyuban Jasa Wisata Bali, Senin (7/6), menggelar aksi sweeping taksi Blue Bird. Aksi sweeping ini dilakukan sepanjang Jalan Sunset Road Kuta. Semua taksi Blue Bird yang lewat langsung dihentikan, dan penumpang diturunkan termasuk para turis asing yang sedang berada di dalam taksi.

Selain melakukan sweeping, beberapa oknum supir taksi lokal Bali juga melakukan perusakan terhadap belasan mobil taksi Blue Bird. Setidaknya 21 buah taksi Blue Bird yang rusak diamankan di Mapolsek Kuta. Sweeping dan pengrusakan ini sudah yang kesekian kalinya dilakukan massa Paguyuban Jasa Wisata Bali. Mereka menuntut izin taksi Blue Bird di Bali dicabut, karena dinilai merugikan usaha taksi lokal setempat.

Sayang aparat penegak hukum tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi aksi anarkis, dan melanggar hukum yang dilakukan para sopir taksi dari Paguyuban Jasa Wisata Bali yang sudah tentu dapat merusak citra pariwisata di Bali.(IDS/AYB)

Dicomot dari: Liputan6.com

AJI Kecam Sopir Taksi Serang Wartawan

8 Juni 2010

rofikiKetua AJI Denpasar, Rofiki Hasan.(foto : FB)

Denpasar – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali mengecam aksi serangan brutal para sopir taksi terhadap dua wartawan saat meliput aksi “sweeping” taksi Blue Bird.”Kami mengecam keras penyerangan tersebut yang merupakan upaya menghalagi kerja jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” kata Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan didampingi Wakil Ketua IJTI Putu Setiawan di Denpasar, Senin (07/06).

Mereka juga mendesak sopir taksi serta PJWB menyampaikan permohonan maaf dan mengganti kerugian yang timbul akibat penyerangan tersebut.

“Kami juga mendesak PJWB memberikan peringatan keras terhadap anggotanya dan menjamin agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali,” kata Rofiqi dalam pernyataan sikap AJI.

Terkait insiden yang menimpa dua wartawan saat bertugas di lapangan, AJI dan IJTI tengah mempertimbangkan untuk mengambil langkah-langkah hukum atas peristiwa tersebut.

Dua wartawan menjadi korban kekerasan para sopir taksi saat meliput “sweeping” taksi Blue Bird di Jalan I Gusti Ngurah Rai itu adalah dua kontributor TV Nasional di Bali, yakni Riadis Suhli (Adi) dan Putu Jana.

Aksi kasar menimpa Adi, yakni kameranya direbut dan dibanting hingga rusak parah. Para sopir juga meminta tanda pengenal (ID) Adi, serta meminta kaset rekaman.

“Saya tidak melawan dan akan menuruti permintaan itu, tetapi tiba-tiba mereka merebut kamera saya, lantas dibanting dan dinjak-injak,” kata Adi.

Disebutkan, pelaku penyerangan terdiri atas lima orang.

Mereka tidak terima aksi “sweeping”-nya diliput wartawan sehingga langsung menghampiri Adi dan meminta rekamannya. “Untung sebelum saya diserang, polisi sudah datang,” katanya.

Kekerasan serupa juga dialami kameramen televisi swasta nasional, Putu Jana. Dia diintimidasi oleh para sopir taksi saat sedang berada di depan kantor PT Indonesia Power dan hendak mengambil gambar sekelompok sopir yang menghentikan taksi “Blue Bird”.

Tiba-tiba beberapa orang menarik dirinya dan melarang pengambilan gambar. Namun, dalam peristiwa itu dia tidak sampai mendapat serangan fisik maupun dirusak peralatannya.

“Kami akan meminta pihak paguyuban untuk bertangung jawab,” kata Putu Setiawan.

Dia akan melaporkan kasus itu ke polisi.

Menurut Sekretaris AJI Denpasar, Komang Erviani, kejadian itu merupakan bentuk upaya menghalangi kerja jurnalis dalam mencari informasi.(ant/waa)

Dicomot dari:  EraBaru.net

Aksi Sopir Taksi Blokir Jalan Berakhir

13 Desember 2007

Semarang (ANTARA News) – Aksi demo sopir dan pengusaha taksi dengan memblokir akses Jalan Pemuda Semarang pada hari Rabu (12/12) sekitar pukul 18.00 WIB berakhir sehingga jalan protokol yang tadinya dipenuhi taksi selama 3 hari 2 malam kembali lancar.

Ratusan sopir taksi tersebut akhirnya mau meninggalkan Jalan Pemuda Semarang setelah Kapolres Semarang Timur AKBP Agustin Hardiyanto mengancam akan mengambil tindakan penegakan hukum karena aksi para sopir ini dianggap mengganggu hak-hak masyarakat lain.

Meskipun para sopir taksi bersedia pulang ke pool masing-masing, permasalahan pro kontra pemberian izin operasi taksi Blue Bird sepertinya masih belum selesai karena Wali Kota Semarang Sukawi Sutarip tetap bersikukuh memberikan izin taksi Blue Bird beroperasi di Kota Semarang.

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang prinsipnya tetap akan memberikan izin operasi kepada 100 armada Blue Bird yang dilakukan secara bertahap. “Kita tetap memberikan izin bagi Blue Bird, tetapi akan mengendalikan jumlah taksi yang beroperasi. Tahap pertama, 50 unit taksi dulu,” katanyai usai melakukan pertemuan dengan para pemilik perusahaan taksi di Semarang yang disaksikan Dandim 0733/BS Letkol Inf Dwi Wahyu Winarto, Dandenpom Letkol CPM Helvis, dan Wakapolres Semarang Timur Kompol I Nengah Wirta.

Selanjutnya, kata Sukawi, akan dilakukan evaluasi untuk melihat dampak dari penambahan armada tersebut. Jika ternyata perusahaan taksi lain tidak terganggu dengan penambahan ini, maka jumlah armada akan ditambah 25 unit lagi.

“Evaluasi lanjutan juga akan dilakukan untuk menentukan kapan perlunya penambahan 25 armada lainnya. Jika masih memungkinkan, tidak menutup kemungkinan Pemkot Semarang memberikan izin tambahan 200 armada lagi,” katanya.

Sukawi menjelaskan, kebutuhan taksi di Semarang pada tahun 2005 sebanyak 1.449 armada. Sementara jumlah taksi yang memiliki izin sampai tahun 2007 baru 1.420 unit.

Dari jumlah itu hanya 995 armada yang aktif, sedangkan 425 armada lainnya tidak aktif. Sedangkan dari 995 armada yang aktif, yang diperpanjang perizinannya hanya 743 armada, 252 armada lainnya tidak diperpanjang izinnya.

“Karena itu, jika kita memenuhi yang 425 armada saja masih kurang. Apalagi ditambah dengan 252 armada,” katanya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Semarang, Andi Agus Wandono menjelaskan, Blue Bird akan bisa mulai mengangkut penumpang jika surat izin operasinya keluar. Jika saat ini sudah terlihat beberapa armada Blue Bird yang berlalu-lalang di jalanan Semarang karena surat-surat kendaraan yang dimiliki sudah lengkap sehingga bisa digunakan di jalan raya.

“Namun mereka belum mengangkut penumpang. Saya belum mendapat laporan kalau mereka mengangkut penumpang. Saat ini secara administrasi izin operasi Blue Bird belum selesai,” kata Andi.

Ia menegaskan, izin bagi Blue Bird tersebut bukan berarti menambah armada taksi, namun untuk mengisi posisi armada yang tidak aktif dan yang tidak diperpanjang izinnya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Taksi (APT) Semarang, Susilo Wibowo mengatakan, pengusaha dan sopir tidak bisa menerima keputusan Wali Kota Semarang sehingga tetap berharap izin operasi Blue Bird dibatalkan.(*)

Sumber: Antara