Posts Tagged ‘Bluebird’

Sweeping Taksi, 21 Mobil Dirusak

8 Juni 2010

 Liputan6.com, Bali: Ratusan sopir taksi lokal yang tergabung dalam Paguyuban Jasa Wisata Bali, Senin (7/6), menggelar aksi sweeping taksi Blue Bird. Aksi sweeping ini dilakukan sepanjang Jalan Sunset Road Kuta. Semua taksi Blue Bird yang lewat langsung dihentikan, dan penumpang diturunkan termasuk para turis asing yang sedang berada di dalam taksi.

Selain melakukan sweeping, beberapa oknum supir taksi lokal Bali juga melakukan perusakan terhadap belasan mobil taksi Blue Bird. Setidaknya 21 buah taksi Blue Bird yang rusak diamankan di Mapolsek Kuta. Sweeping dan pengrusakan ini sudah yang kesekian kalinya dilakukan massa Paguyuban Jasa Wisata Bali. Mereka menuntut izin taksi Blue Bird di Bali dicabut, karena dinilai merugikan usaha taksi lokal setempat.

Sayang aparat penegak hukum tidak dapat berbuat apa-apa dalam menghadapi aksi anarkis, dan melanggar hukum yang dilakukan para sopir taksi dari Paguyuban Jasa Wisata Bali yang sudah tentu dapat merusak citra pariwisata di Bali.(IDS/AYB)

Dicomot dari: Liputan6.com
Iklan

AJI Kecam Sopir Taksi Serang Wartawan

8 Juni 2010

rofikiKetua AJI Denpasar, Rofiki Hasan.(foto : FB)

Denpasar – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Denpasar dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Bali mengecam aksi serangan brutal para sopir taksi terhadap dua wartawan saat meliput aksi “sweeping” taksi Blue Bird.”Kami mengecam keras penyerangan tersebut yang merupakan upaya menghalagi kerja jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers,” kata Ketua AJI Denpasar Rofiqi Hasan didampingi Wakil Ketua IJTI Putu Setiawan di Denpasar, Senin (07/06).

Mereka juga mendesak sopir taksi serta PJWB menyampaikan permohonan maaf dan mengganti kerugian yang timbul akibat penyerangan tersebut.

“Kami juga mendesak PJWB memberikan peringatan keras terhadap anggotanya dan menjamin agar peristiwa tersebut tidak terulang kembali,” kata Rofiqi dalam pernyataan sikap AJI.

Terkait insiden yang menimpa dua wartawan saat bertugas di lapangan, AJI dan IJTI tengah mempertimbangkan untuk mengambil langkah-langkah hukum atas peristiwa tersebut.

Dua wartawan menjadi korban kekerasan para sopir taksi saat meliput “sweeping” taksi Blue Bird di Jalan I Gusti Ngurah Rai itu adalah dua kontributor TV Nasional di Bali, yakni Riadis Suhli (Adi) dan Putu Jana.

Aksi kasar menimpa Adi, yakni kameranya direbut dan dibanting hingga rusak parah. Para sopir juga meminta tanda pengenal (ID) Adi, serta meminta kaset rekaman.

“Saya tidak melawan dan akan menuruti permintaan itu, tetapi tiba-tiba mereka merebut kamera saya, lantas dibanting dan dinjak-injak,” kata Adi.

Disebutkan, pelaku penyerangan terdiri atas lima orang.

Mereka tidak terima aksi “sweeping”-nya diliput wartawan sehingga langsung menghampiri Adi dan meminta rekamannya. “Untung sebelum saya diserang, polisi sudah datang,” katanya.

Kekerasan serupa juga dialami kameramen televisi swasta nasional, Putu Jana. Dia diintimidasi oleh para sopir taksi saat sedang berada di depan kantor PT Indonesia Power dan hendak mengambil gambar sekelompok sopir yang menghentikan taksi “Blue Bird”.

Tiba-tiba beberapa orang menarik dirinya dan melarang pengambilan gambar. Namun, dalam peristiwa itu dia tidak sampai mendapat serangan fisik maupun dirusak peralatannya.

“Kami akan meminta pihak paguyuban untuk bertangung jawab,” kata Putu Setiawan.

Dia akan melaporkan kasus itu ke polisi.

Menurut Sekretaris AJI Denpasar, Komang Erviani, kejadian itu merupakan bentuk upaya menghalangi kerja jurnalis dalam mencari informasi.(ant/waa)

Dicomot dari:  EraBaru.net

Perampok Taksi Dibekuk Polisi

7 Januari 2009

Teguh Imam, ditangkap polisi. Tersangka, diketahui merampok taksi Blue Bird pada 4 Januari 2009 lalu. Dalam aksinya, dia menyamar dengan berpura-pura menjadi penumpang taksi.

“Pelaku menyamar jadi penumpang,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Zulkarnaen kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jakarta, Selasa (6/1/2009).

Kejadian berawal ketika sang pelaku, Teguh, menyetop taksi yang dikemudikan oleh Taryadi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Taryadi kemudian menepikan mobilnya dan menaikkan Teguh kedalam mobil. (more…)

Ekspansi Usaha Taksi di Solo Terhambat

28 November 2008

Kecil peluang perusahaan taksi untuk memperluas usahanya di Kota Solo setelah pemkot setempat menyatakan tidak akan mengeluarkan izin baru.

Satu perusahaan angkutan taksi Blue Bird sempat dikabarkan ingin memperluas jaringan usahanya hingga ke kota budaya tersebut. Pemkot Solo sendiri telah memastikan tidak akan memberi izin bagi perusahaan taksi dengan mempertimbangkan tingginya tingkat keterisian (load factor) jasa taksi di kota itu yang mencapai 60%.

Data Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) Kota Solo menunjukan jumlah armada taksi di Kota Bengawan itu berkisar 400-500 unit armada dari enam perusahaan operator taksi.

Kepala DLKLAJ Kota Solo Yosca Herman Soedrajat tidak menampik jika pihaknya pernah menerima permohonan dari perusahaan taksi baru yang akan mengoperasikan armadanya di Solo. (more…)

Taksi “Blue Bird” Ditolak di Solo

21 November 2008

Pengusaha angkutan umum di Kota Solo menolak rencana masuknya armada taksi dari luar kota. Penolakan tersebut ditegaskan terkait adanya rencana taksi Blue Bird masuk ke Kota Solo. Bahkan saat ini proposal tentang rencana tersebut telah diterima Dinas Lalu-Lintas Angkutan Darat (DLLAJ) Kota Solo.

’’Dengan tegas Organda menolak rencana masuknya taksi Blue Bird dari Jakarta ke Solo. Saat ini saja jumlah taksi di Kota Solo mencapai 427 armada di mana kondisi load factor penumpangnya sangat kecil,’’ ujar Ketua Organda Solo, Joko Suprapto, kemarin.

Apalagi rencananya taksi Blue Bird yang akan masuk ke Kota Solo jumlahnya mencapai ratusan. Jika akhirnya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memberikan izin, maka pihaknya akan melakukan demo dan akan menolak secara tegas penambahan jumlah armada taksi di Solo.

’’Jika hal itu sampai terjadi maka kami sangat prihatin sekali. Untuk itu saat ini dari Organda telah mengajukan usulan kepada DLLAJ agar izin tidak diberikan,’’ kata dia lagi.

Menurut Joko Suprapto, rencana masuknya taksi Blue Bird tersebut telah terdengar sejak bulan lalu.

Kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan penambahan jumlah armada, mengingat dengan jumlah armada saat ini sudah memenuhi kebutuhan masyarakat di Kota Solo.

Terima proposal
Sementara itu menurut Kepada DLLAJ Kota Solo, Yoscha Herman Sudrajat pada kesempatan yang berbeda membenarkan jika saat ini pihaknya telah menerima proposal perizinan rencana masuknya taksi Blue Bird ke Solo.

Tetapi hingga saat ini pihaknya belum bisa memutuskan apakah akan memberikan izin atau tidak.

’’Dalam proposal itu dikatakan untuk tahap pertama yang akan masuk sebanyak 50 armada. Tetapi untuk selanjutnya jumlah armada yang akan masuk tidak disebutkan,’’ jelas dia.

Menurut Yoscha, pihaknya akan melakukan uji kelayakan apakah armada yang tersedia di Kota Solo sudah memenuhi kebutuhan warga Solo ataukah masih perlu ditambah.

Untuk itu pihaknya belum bisa memastikan apakah rencana tersebut disetujui atau tidak. K.21-bg

Sumber: WawasanDigital