Riwayat Taksi Betawi Tempo Doeloe


Oleh Hendi Johari, peneliti dan wartawan lepas

Jumlah taksi di Jakarta,kini sudah mencapai angka ribuan. Padahal dulu jumlahnya hanya puluhan dan dikonsumsi oleh kalangan berduit saja. Bagaimana sejarah perkembangan kendaraan bermahkota itu hingga sampai di Batavia (Jakarta)?

Ada sebuah anekdot yang populis di kalangan sopir taksi Jakarta.Anekdot itu berupa pertanyaan usil: apa bedanya penumpang taksi bule dengan penumpang taksi pribumi? Jawabannya: kalau penumpang bule saat naik taksi pemandangan sepanjang jalan yang ia lihat. Nah,kalau penumpang pribumi? Sepanjang jalan yang ia lihat adalah… Argometer!

Secara historis, alat ukur pembayaran perjalanan itu memang menempati posisi penting dalam sejarah perkembangan taksi di dunia. Sebelum taksi yang biasa kita kenal hari , awal perkembangan bisnis taksi dimulai dari jasa niaga penyewaan kereta kuda berukuran kecil Hackney Carriage di Paris dan London pada awal abad ke-17.

Taksi modern sendiri mulai berkembang dengan ditandai penemuan argometer oleh Wilhelm Bruhn pada 1891. Tersebutlah, seorang pengusaha jasa niaga transportasi bernama Gottlieb Daimler yang pada 1897 menyempurnakan hasil temuan Bruhn tersebut. Ia lantas memberi nama alat tersebut sebagai Daimler Victoria. Pada 16 Juni 1897, Daimler Victoria dikirim ke Friedrich Greiner, pengusaha Stuttgart yang pertama kali membuat perusahaan taksi di dunia dengan kendaraan bertenaga batterai.

Penggunaan kendaraan bertenaga bahan bakar sebagai taksi terjadi pada 1899 di Paris, 1903 di London dan 1907 di New York. Taxicab New York diimport oleh Harry N Allen dari Paris dan dia adalah orang pertama yang menggunakan warna kuning di taxicab New York dengan dasar pertimbangan warna tersebut adalah warna yang paling mudah dikenali di jalan.

Selanjutnya, taksi terus berkembang terus hingga abad 20. Perkembangannya semakin maju saat pada 1940, mulai dikenal radio komunikasi 2 arah sebagai instrumen pelengkap di taksi. Penggunaan radio ini sangat membantu komunikasi operator dengan pengemudi dalam melayani order pelanggannya.

Pada tahun 1980, masuklah teknologi komputer yang digunakan sebagai alat untuk distribusi order. Saat ini regulasi taksi yang berisikan tentang spesifikasi kendaraan yang boleh digunakan taksi serta prosedur-prosedur dasar dalam proses pelayanan pelanggan taksi menjadi salah satu perhatian penting bagi pemerintah dibidang transportasi. Taksi menjadi ikon perkembangan kota bisnis dan pariwisata di dunia.

Di Indonesia sendiri, diperkirakan taksi mulai masuk pertama kali lewat Batavia (Jakarta) pada 1930-an. Menurut Onih Masruha (89), jumlahnya pun tak banyak,hanya puluhan. Justru dengan jumlah terbatas itu, taksi di zaman Hindia Belanda menjadi ukuran status sosial,”Orang kite mana ada yang pakai taksi,kebanyakan yang naik kalau bukan meneer-mener ya sinyo-sinyo atawa noni-noni,”ujar lelaki Betawi yang kini tinggal di kawasan Kwitang tersebut.

Kendati bersifat eksklusif, namun taksi zaman Hindia Belanda tidak seenaknya mengambil penumpang dan mangkal di sembarang tempat. Itu berbeda dengan taksi zaman sekarang, yang sesuka hatinya mengangkut “sewa” Akibatnya, tak jarang mereka –bersama mikrolet dan metromini–menjadi biang keladi kemacetan yang terjadi di jalan-jalan utama ibukota.

Di zaman Hindia Belanda, para pengemudi kendaraan bermahkota itu tidak diizinkan mengambil penumpang di tengah jalan. Mereka hanya menurunkan penumpang di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Makanya bukan suat yang aneh jika di zaman itu ada yang disebut pangkalan taksi. Fungsinya mirip terminal bus kota saat ini: calon penumpang yang ingin naik taksi harus mendatangi terminal atau pangkalan taksi tersebut.Uniknya, di pangkalan itu berlaku pula sistem antri.

Ada beberapa pangkalan taksi yang ada saat itu di Jakarta. Diantaranya ada di Lapangan Gedung Balai Kota (Stadhuis), Kali Besar Barat dan Lapangan Glodok (Glodok Plein). Sedangkan di Weltevreden dipusatkan tidak jauh dari gedung pertemuan di Harmonie, Pintu Air, Gedung Kesenian (Stadsschouwburg), pojok selatan Lapangan Banteng (Waterlooplein), Stasiun Gambir, Deca Park, pojok Menteng atau Gondangdia Lama, Entrée Saleh (kini Jalan Raden Saleh), Kebon Binatang di Cikini, Krekot, Pasar Baru dan Senen.

Soal kapasitas, taksi tempo doeloe itu dibatasi hanya memuat 5 penumpang. Ongkosnya dihitung berdasarkan kilometer yang ditempuh. Misalnya untuk satu kilometer dikenakan sebesar 30 sen atau 10 sen untuk tiap satu menitnya. Itu merupakan ongkos sewaan di siang hari yang dimulai pukul 06.00 pagi hingga pukul 23.00 malam. Sedangkan untuk di malam hari ongkosnya 50 persen lebih tinggi dari ongkos di siang hari. Waktu malam hari dihitung mulai dari pukul 23.00 malam hingga 06.00 pagi besoknya.

Harga ongkos semakin melonjak kalau sang penumpang minta diantar ke Pelabuhan Tanjung Priok. Jika diminta menunggu maka sang penumpang harus membayar 5 sen permenit dari pertama kali waktu harus menunggu. Hitungan ini di luar ongkos yang telah dipatok sebelumnya. Dengan situasi seperti tersebut, ajaibnya tidak ada terdengar kejadian sopir taksi dirampok saat itu.

Keistimewaan lainnya dari taksi zaman dulu itu adalah para supirnya yang sangat patuh kepada peraturan yang ditetapkan pihak Kotapraja kala itu. Memang ada peraturan, selain wajib mengangkut penumpang di pangkalan taksi, mereka pun tidak dibenarkan merokok saat membawa penumpang. Bagaimana jika ada sopir taksi yang tetap membandel? Pihak Kotapraja tak segan-segan mencabut surat izin mengemudi (rijbewijs). Tentunya tanpa rijbewijs, mereka tak bisa mencari nafkah.

(foto istimewa, KITLV via wordpress.com)
*tulisan ini juga bisa dibaca di majalah Trans Dephub.

Dicomot dari: Jakarta Beat

Tag: , , ,


%d blogger menyukai ini: