Taksi, Simbol Feminisme India?


New Delhi – Bagi sebagian perempuan Arab, mengemudi adalah hal yang haram. Namun, hal itu tak berlaku bagi Muslimah di India. Sebagian dari mereka, menjadi sopir taksi demi mencukupi kebutuhan keluarga kini bahkan menjadi tren. Hal ini sering dipandang sebagai bentuk perlawanan atas dominasi pria di India.

Shanno Begum, 32, adalah seorang janda yang tinggal di New Delhi. Sejak ditinggal mati suaminya tiga tahun lalu, ia harus menghidupi tiga anak dan mertua yang ikut bersamanya. Awalnya dia adalah seorang perawat swasta yang digaji 4.500 rupee (Rp 900 ribu) per bulan untuk bekerja selama 24 jam setiap hari tanpa libur.

Kini, Begum memiliki harapan. Walaupun masih mendapatkan penghasilan yang sama, dia cukup bekerja selama delapan jam sehari. Sehingga masih dapat menggunakan sisa waktunya mengurus anak-anak.

Hal ini terjadi ketika tahun lalu Begum mendaftar untuk sebuah program layanan panggilan taksi pertama di New Delhi yang dioperasikan perempuan. Program itu dipelopori Yayasan Azad, sebuah kelompok yang bertujuan membantu kaum perempuan tak mampu untuk mandiri secara finansial.

“Tujuannya untuk mendirikan sebuah perusahaan dengan para perempuan sebagai pemegang sahamnya. Sehingga, hal ini tidak akan terlihat seperti yayasan amal, tapi sebuah usaha yang dijalankan bersama,” papar pemilik Yayasan Azad, Meenu Vadera, seperti dilansir Bangkok Post.

Layanan taksi yang dikemudikan perempuan ini sendiri direncanakan akan mulai beroperasi sebelum Commonwealth Games pada Oktober 2010. “Kami sudah melatih sembilan orang perempuan dan sedang melatih 11 lainnya,” jelas Vadera.

Untuk memastikan keselamatan mereka, para sopir taksi perempuan ini juga telah menerima sejumlah pembekalan dasar bagi pertahanan diri. Juga sejumlah pelatihan melalui kelas-kelas etika dan Bahasa Inggris.

“Saya sedang mencari sebuah program yang dapat mengkombinasikan mata pencarian untuk perempuan. Dengan ide untuk memiliki pengemudi taksi perempuan yang akan memberikan transportasi aman bagi para pekerja perempuan di Delhi,” ujar Vadera.

Perempuan India sendiri melihat program yang terkesan ambisius itu sebagai jalan keluar dari masalah sosial dan ekonomi mereka. “Saya langsung menerima ide itu. Ini akan memberi saya kemandirian dan kemampuan untuk menyokong diri saya sendiri,” ujar Rita, 24.

Hal serupa juga diungkapkan Ekta, seorang ibu dari empat orang anak berusia 28. Menurut dia, proyek taksi itu membuka pintu yang sebelumnya dia pikirkan tertutup bagi seorang perempuan buta huruf seperti dirinya. “Sekarang saya merasa memiliki harga diri. Saya seakan memiliki identitas diri selain menjadi seorang istri dan ibu,” akunya.

Apakah proyek tersebut berjalan lancar? Ternyata program itu tidak lepas dari masalah yang menghadang. Contohnya, proses SIM yang dibutuhkan untuk mengemudikan sebuah taksi membutuhkan waktu pembuatan hingga satu tahun.

Salah satunya seperti dialami Heena Khan, 22. Dia merasa putus asa setelah pengeluaran SIM-nya tertunda. “Awalnya kami bersemangat dan siap bekerja keras. Ternyata kami masih tak bisa mendapatkan pekerjaan, karena kami seorang perempuan,” ujar Khan, yang memiliki 10 anggota keluarga yang harus dihidupinya.

Lalu, bagaimana sikap Yayasan Azad selaku pembuat program itu? “Saya tidak memperhitungkan adanya bias gender,” kata Vadera. Hal itu diungkapkannya menyusul pertanyaan yang kerap diulang dari calon konsumen apakah seorang perempuan dapat dipercaya untuk mengemudikan dengan aman dan datang bekerja tepat waktu.

Terlepas dari jaminan yang diberikannya, kata dia, banyak warga India yang memutuskan untuk menentang kehadiran sopir taksi perempuan. “Hal ini terlepas dari stereotip yang menunjukkan bahwa perempuan lebih berhati-hati daripada pria, tidak mengkonsumsi alkohol ketika mengemudi, dan tidak bertindak ugal-ugalan ketika di jalan,” paparnya.

India sebenarnya telah tampil sebagai kekuatan ekonomi global. Namun, hal ini ternyata tidak banyak berpengaruh terhadap jutaan perempuan buta huruf atau yang tidak memiliki ketrampilan dan hanya mengandalkan pekerjaan kasar sebagai pembantu atau pengasuh sebagai mata pencarian utamanya.

Pekerjaan mereka umumnya tak memiliki payung hukum dan perlindungan. Sehingga menjadikan mereka rentan akan pelecehan dan eksploitasi. “Di antara mereka berasal dari keluarga yang hanya kaum prianya saja yang bekerja,” kata guru besar Sosiologi Universitas Delhi, Poonam Bala.

Hal-hal itulah yang kemudian kerap memupuskan harapan perjuangan kaum feminis di India. Feminis India Urvashi Butalia sendiri menyebut bahwa gerakan perempuan di negaranya sebenarnya sangat berhasil. Gerakan itu telah mampu mengubah sejumlah undang-undang yang memungkinkan kesetaraan perempuan dalam masyarakat.

“Tapi setelah beberapa tahun kami melihat bahwa perubahan undang-undang saja tidak cukup. Kami masih harus membangun kondisi di mana orang-orang yang bekerja dengan undang-undang ini mau menggunakannya,” paparnya. [P1]

Dicomot dari: Inilah.com

Tag: ,


%d blogger menyukai ini: