Tarif Taksi Turun 10 Persen


Yogyakarta, Kompas – Setelah alot berunding, akhirnya tercapai juga kesepakatan untuk menurunkan tarif angkutan. Tarif taksi merupakan angkutan yang paling besar menurunkan ongkosnya, 10 persen. Angkutan yang lain hanya sekitar 5-6 persen.

Kesepakatan tersebut tercapai dalam pertemuan antara Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan) dengan Dinas Perhubungan DIY dan Lembaga Konsumen Yogyakarta, Senin (19/1).

Jika kesepakatan ini disahkan, tarif angkutan perkotaan misalnya turun dari Rp 2.500 per penumpang menjadi sekitar Rp 2.350 per penumpang. Tarif taksi akan turun dari Rp 3.000 per kilometer menjadi Rp 2.700 per kilometer.

Ditemui usai pertemuan, ketua bidang taksi Organda DIY Taryoto mengatakan penurunan tarif sebenarnya terasa berat bagi pengusaha angkutan. Namun, situasi saat ini memaksa mereka untuk menyepakati penurunan tarif tersebut.

Taryoto menuturkan, turunnya harga bahan bakar minyak (BBM) ternyata tidak berdampak pada harga suku cadang kendaraan. Dengan kondisi semacam itu, penurunan tarif angkutan akan membuat posisi pengusaha semakin sulit. “Situasinya dilematis. Ketika BBM naik, harga-harga ikut naik. Sekarang saat BBM turun, masyarakat berharap harga-harga termasuk tarif angkutan turun. Kami juga harus melihat faktor itu,” ucapnya.

Penurunan tarif diharapkan bisa menarik masyarakat untuk lebih sering menggunakan angkutan umum. Menurut Taryoto, pengusaha angkutan akan sedikit tertolong jika tingkat keterisian kendaraan mereka meningkat.

Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan DI Yogyakarta Sigit Haryanto mengatakan, dalam dua bulan terakhir harga suku cadang kendaraan relatif stabil. Oleh karena itu, harga suku cadang kendaraan tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda penurunan tarif. Hasil kesepakatan tersebut akan segera diajukan kepada Gubernur DIY. “Tarif baru ini akan berlaku setelah mendapat pengesahan Gubernur,” ujar Sigit.

Ubah skema

Sigit mengakui, proses penyesuaian tarif angkutan relatif lama sehingga dampak penurunan harga BBM tidak langsung dirasakan masyarakat. Ke depan, pihaknya akan mencoba mengubah skema penghitungan tarif angkutan. Dengan begitu, tarif angkutan bisa segera disesuaikan dengan fluktuasi harga BBM. (ARA)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Tag: , , ,


%d blogger menyukai ini: