Operator Taksi Enggan Turunkan Tarif


TRIBUN BATAM/ IMAM SURYANTO

Sejumlah operator taksi di Jakarta menilai bahwa turunnya harga BBM jenis premium dan solar tidak terlalu signifikan sehingga diperkirakan tidak akan memengaruhi tarif taksi.

Humas Blue Bird Group Teguh Wijayanto di Jakarta, Jumat (19/12), mengatakan, penurunaan harga premium terakhir dari Rp 5.500 menjadi Rp 5.000 dinilai belum ideal dibandingkan dengan kenaikan harga premium sebelumnya dari Rp 4.500 menjadi Rp 6.000 per liter.

Karena itu, katanya, pihaknya enggan menurunkan tarif armadanya karena harga suku cadang saat ini dianggap masih relatif tinggi.

Perusahaan taksi berlambang burung itu akan berusaha mempertahankan tarif yang sekarang, yakni buka pintu Rp 6.000, tarif jalan per km Rp 3.000, dan tarif tunggu sebesar Rp 30.000.

Ia mengatakan, saat harga premium dinaikkan sebesar 28 persen, operator taksi harus bekerja ektra untuk menutupi pengeluaran. Sebab, kenaikan tarif taksi yang disetujui hanya 20 persen. “Padahal, dalam hitung-hitungan kami, saat harga BBM dinaikkan, idealnya tarif taksi naik sebesar 28 persen. Namun, pemerintah hanya menaikkan 20 persen,” ungkap Teguh.

Meski begitu, kata Teguh, pihaknya tetap menyerahkan masalah penyesuaikan tarif taksi kepada pemerintah, dalam hal ini Pemprov DKI dan Organda. “Pada prinsipnya, kami menyerahkan masalah itu ke Pemprov dan Organda. Bagaimana nanti, kami akan ikut,” ujarnya.

Namun, di luar keputusan Pemprov dan Organda nanti, Teguh berharap tarif taksi tidak diturunkan. Sebab, turunnya harga BBM dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.000 belum dapat dirasakan oleh perusahaan. “Rata-rata harga onderdil kendaraan di Indonesia ini tergantung dengan nilai tukar dollar. Sekarang, kita lihat apakah dollar turun,” ujar Teguh.

Menurut Teguh, penurunan harga premium dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.000 ini yang untung adalah pengemudi atau sopir taksi. Karena sopir taksi bisa menghemat anggaran BBM-nya sebesar Rp 1.000 per liter. “Kalau kemarin, sopir taksi harus bekerja keras untuk dapat mengejar uang setoran, tapi sekarang mereka sedikit bisa bernapas lega,” ujarnya.

Selain Blue Bird Group, operator taksi yang juga mengaku enggan menurunkan tarif adalah operator taksi Gamya. “Memang harga BBM menjadi salah satu komponen yang bisa memengaruhi tarif taksi. Penurunan BBM saat ini tidak signifikan sehingga tidak memengaruhi tarif taksi,” kata Direktur Utama Gamya Mintarsih Alatif.

Mintarsih mengungkapkan, pengaruh harga BBM terhadap tarif taksi hanya sebesar 30 persen, sisanya komponen lainnya seperti suku cadang. “Nah, suku cadang ini komponen paling besar yang bisa memengaruhi tarif taksi. Sekarang lihat, harga suku cadang sangat tinggi, jadi sulit bagi kami menurunkan tarif,” katanya.

ONO
Sumber : Ant

Artikel diambil dari Kompas.com

Tag:


%d blogger menyukai ini: