DPRD Jakarta Desak Tarif Taksi Ikut Turun


DPRD Jakarta mendesak agar tarif taksi diturunkan seiring dengan kebijakan penurunan ongkos angkutan umum sebesar 5 persen.

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Aliman Aat mengatakan, penurunan tarif taksi merupakan hal yang wajar. Dalam waktu dekat, pihaknya akan meminta pemprov agar merealisasikan penurunan tarif taksi tersebut.

Sebelumnya, pemprov bergerak cepat ketika pengusaha angkutan meminta tarif dinaikkan menyusul naiknya harga BBM. Sekarang, pemprov pun harus melakukan hal serupa. “Berpikirlah dengan adil. Jangan menambah susah rakyat,” katanya di Jakarta, Kamis (18/12/2008).

Anggota dewan mengusulkan tarif argometer taksi dikembalikan seperti tarif semula sebelum dinaikkan 20 persen pada 11 Juni lalu. Sesuai SK Gubernur DKI Jakarta no 1065/-1.811.1 tertanggal 11 Juni 2008 tarif baru (batas atas), menit pertama naik dari Rp5.000 menjadi Rp6.000, ongkos per km Rp2.500 menjadi Rp3.000 dan ongkos tunggu Rp25.000 menjadi Rp30.000 per jam.

Sementara pada tarif lama (batas bawah) biaya menit pertama meningkat dari Rp4.000 jadi Rp5.000, ongkos per km Rp1.800 menjadi Rp2.500 dan biaya menunggu dari Rp18.000 jadi Rp25.000 per jam. “Perlu ada perubahan SK Gubernur. Pokoknya harus dikembalikan seperti semula,” tegasnya.

Aliman melanjutkan, dengan besaran tarif itu pengusaha taksi masih bisa meraih untung. “Jika usulan ditolak, Dewan Transportasi Kota harus memberikan solusi ke gubernur. Pasti ada angka penurunan yang rasional,” terangnya.

Berdasarkan data Dinas Perhubungan DKI Jakarta, jumlah taksi di Jakarta mencapai 25.296 unit yang berasal dari 44 perusahaan. Namun dari jumlah itu, hanya 16.000 unit yang beroperasi.

Ketua Organisasi Angkutan Darat(Organda) DKI Jakarta Herry Rotty memperkirakan tarif taksi dapat turun pada kisaran 5 persen. Namun persentase tersebut belum dapat diputuskan, karena Organda belum melakukan pembahasan sebelum tarif angkot diumumkan secara resmi. ” Kami berjanji pembahasan tarif taksi diagendakan pekan depan. Karena penurunan BBM berdampak pada tarif taksi,” katanya.

Dirut Perusahaan Taksi Gamya, Mintarsih A Latif mengatakan mendukung kebijakan pemerintah. Sayangnya penurunan harga BBM tidak diikuti dengan turunnya harga komponen lain seperti suku cadang kendaraan.

Mintarsih mengatakan, jika terjadi penurunan tarif maka maksimal sebesar 3 persen. Kecuali jika harga suku cadang mengalami penurunan, maka besaran tarif yang diturunkan bisa lebih besar. “Kami belum bisa memutuskan, masih menunggu perkembangan,” tandasnya.

Kahumas Blue Bird Teguh Wijayanto mengatakan masih menunggu perkembangan dan belum bisa memutuskan berapa besaran penurunan tarif karena masih menunggu rapat asosiasi. “Kami masih menunggu kebijakan dari pemprov Jakarta dan Organda,” ucapnya.

(Neneng Zubaidah/Sindo/ful)

Sumber: Okezone.com

Tag: ,


%d blogger menyukai ini: