Mulai 2009 Taksi di Batam Harus Pasang Argo


KOTA Batam memiliki dua keunggulan utama dibanding kota lain di Indonesia, yakni lokasi yang strategis dan price (harga) hotel termurah dibanding kota mana pun di seluruh Indonesia.

Namun demikian, masih banyak juga kelemahan yang dimiliki dan harus segera dibenahi. Di antaranya taksi-taksi di kota ini tidak menggunakan argometer, sehingga sopir taksi bisa seenaknya memberlakukan harga kepada penumpang.

“Taxi dari Sekupang ke Batam Centre di-cash Rp 65 ribu. Kadang, seharusnya ada kembalian, tidak dikembalikan. Coba kita bandingkan dengan Singapura. Uang kembalian satu sen dolar pun mereka kembalikan. Ini yang harus kita benahi. Sehingga saya minta agar tahun 2009, semua taksi sudah harus pakai argo,”tegas Rahman Usman, Ketua Batam Tourism Board (BTB) dalam acara Sosialisasi Pengembangan Promosi MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) di Indonesia, yang digelar di Hotal Pacific, Jodoh, Batam, Senin ( 25/8/2008 ).

Selain itu, para turis yang sudah “bau tanah” pun masih diperiksa dengan sangat ketat oleh petugas imigrasi di pelabuhan. “Turis sudah bau tanah pun diperiksa sangat ketat. Obat-obatan yang dibawa diperiksa sangat ketat. Padahal mungkin itu obat untuk kebutuhan kesehatan dia,”kritik Rahman Usman.

Dia juga mendesak agar lokasi-lokasi strategis di Kota Batam segera dibenahi. “Jalur-jalur utama harus bersih dan aman. Orang merasa nyaman di Singapura karena mereka jalan tengah malam pun tetap merasa nyaman. Kita harus melakukan seperti itu. Kalau ini dilakukan, kita bisa raih dua juta turis,”ujar Rahman.

Dia juga mengritik soal minimnya fasilitas WC umum. “Di Nagoya tidak ada WC umum,”ujarnya. Ia menambahkan, Batam juga tidak memiliki tempat penitipan barang bagi turis, terutama turis domestik seperti keluarga atau teman peserta MICE di Batam yang hendak menyeberang ke Singapura.

“Mereka terpaksa harus memikul tas besar saat menyeberang ke Singapura. Padahal, lahan di Depan Hotel Sari Jaya, Nagoya, bisa dimanfaatkan untuk dibangun tempat penitipan barang. “Orang kencing kan bayar. Orang titip barang juga bayar. Itu semua akan mendatangan uang,”ujarnya memberi saran.

Selain itu, menyangkut kenapa pertemuan internasional terkait pemerintahan belum bisa diselenggarakan di Batam, karena belum ada hotel yang menyediakan alat penerjemah bahasa. “Ini syarat untuk menggelar government meeting. Ini informasi saya peroleh dari Deplu (Departemen Luar Negeri),” ungkap Rahman Usman.

Ketua Umum DPD Indonesia Congress and Convention Association (INCCA) Batam Jadi Rajagukguk dalam pemaparannya juga mengungkapkan mengenai perilaku seorang karyawan hotel bintang 4 di Batam yang kurang sopan. “Ini masalah kualitas SDM (sumber daya manusia) kita,” kata Jadi yang kemudian menuturkan pengalamannya ketika menjamu seorang tamu penting dan keduanya berbincang di hotel tersebut.

“Saat akan pergi ke kamar, saya meminta tolong kepada karyawan tersebut, apakah ada room boy yang bisa mengantar tas tamu tersebut ke kamar. Ternyata dijawab, ‘itu bukan tugas saya’ dan langsung pergi meninggalkan kami,” tutur Jadi yang enggan menyebutkan nama hotel dimaksud.

Cerita Jadi membuat Nia Niscaya selaku Direktur Konvensi, Insentif, dan Pameran (MICE) dari Dapertemen Kebudayaan dan Pariwisata terkaget-kaget. “Ya Tuhan…,”cetus Nia yang duduk di kursi peserta.
Padahal, sebelumnya Nia mengatakan bahwa dari 5,7 juta wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia pada 2007, sebanyak 41,23 persen berasal dari kegiatan MICE. Dan menurut Rahman Usman, rapat antara dua orang pun di hotel, itu sudah termasuk dalam MICE.

Nia menyebutkan bahwa sebenarnya Batam berpotensi mengembangkan MICE karena lokasinya sangat dekat Singapura, yang merupakan kota tujuan utama MICE di Asia. Sehingga Batam bisa meraih “tumpahan” dari negeri tetangga itu.

“Tapi ingat, itu tumpahan yang berkualitas. Tidak bisa dianggap remeh karena pesertanya berkelas internasional,”kata dia mengingatkan.(edy)

Sumber: http://eddymesakh.wordpress.com

Tag:


%d blogger menyukai ini: