Monopoli Taksi Bandara Ahmad Yani Semarang


Konsumen pengguna Taksi dari Bandara Ahmad Yani – Semarang, tidak punya pilihan selain harus memakai sebuah perusahaan taksi yang sudah ditentukan dari pihak bandara. Taksi Bandara tersebut tidak memakai argometer.
Disini, yang notabene wilayah umum, terjadi monopoli karena pihak bandara melarang perusahaan taksi lain untuk mengambil penumpang di dalam area bandara.
Mungkin hal ini tidak akan jadi masalah yang memberatkan konsumen seandainya harga taksi yang dibayar sama dengan harga taksi yang beropersai dari luar bandara. Kenyataannya konsumen harus membayar harga yang jauh lebih mahal dari harga taksi biasa.

Contoh kasus, saya pernah naik taksi dengan argometer dari rumah saya ke bandara habisnya Rp.31.000,-. Tapi giliran saya pulang kerumah dari bandara saya di”bajak” harus bayar Rp.60.000,-.

Ini kan sangat merugikan sekali karena saya tidak boleh pakai jasa angkutan lain selain taksi bandara (kecuali dijemput pakai mobil pribadi, tidak dilarang).
Sekarang saya ingn mempertanyakan atas dasar apa perusahaan taksi tersebut bisa memonopoli lahan publik di bandara Ahmad Yani – Semarang?

Salam,

Iwan Syafrizal
Semarang

Sumber: http://www.mediakonsumen.com

Tag: ,

3 Tanggapan to “Monopoli Taksi Bandara Ahmad Yani Semarang”

  1. aris Says:

    Taksi Bandara Mogok
    Kamis, 11 Juni 2009

    Kabandara: Seperti Makan Buah Simalakama

    BATAM (BP) – Ratusan supir taksi Bandara Hang Nadim menggelar aksi mogok kerja di bandara tersebut, Rabu (10/6). Aksi ini sebagai protes atas kebijakan pengelola bandara yang menambah lima unit taksi bandara, kemarin.

    Saat ini terdapat 162 armada taksi bandara (port taksi) di Bandara Hang Nadim. Dengan jumlah ini saja, para supir mengaku sudah sepi penumpang. “Biasanya kami jalan satu atau dua kali sehari, kalau tambah armada kan makin mati kami,” kata Ucok, salah satu supir taksi bandara.
    Adapun alasan pengelola bandara, penambahan kelima armada taksi tersebut guna memenuhi tuntutan komisi pengawasan persaingan usaha (KPPU). Beberapa waktu lalu, KPPU menyemprit Bandara Hang Nadim dengan tudingan telah melakukan monopoli usaha taksi bandara.

    Ini memang terbukti. Sebab, selama ini layanan taksi di bandara hanya dikelola satu koperasi, yakni koperasi karyawan Otorita Batam. Bahkan mereka sempatmenentang pengoperasian bus Damri bandara.

    Kepala Bandara Hang Nadim, Hendro Harijono mengatakan, kelima port taksi yang baru tersebut merupakan milik koperasi Jala Taksi (1 unit) dan Koperasi pengemudi taksi Batam (Kopetab) sebanyak 4 unit. ”Kami memang membuka kran bagi pengusaha taksi untuk masuk ke bandara,” kata Hendro.

    Menurut Hendro, kebijakan ini cukup dilematis. Di satu sisi ia menyadari secara kuantitas taksi bandara sudah lebih dari cukup. Namun di sisi lain, sebagai regulator pihaknya harus mematuhi undang-undang.

    Sebab, jika masih ada monopoli, KPPU bakal mengganjar pengelola Bandara Hang Nadim dengan denda sebesar Rp1 miliar. Dan deadline KPPU tersebut jatuh tempo tepat pada hari Rabu (10/6), kemarin. ”Ini seperti makan buah simalakama. Dan sebenarnya secara pribadi dan dinas, saya ingin berada di tengah-tengah permasalahan ini,” kata Hendro.

    Aksi mogok para supir taksi ini nyaris melumpuhkan layanan transportasi penumpang di Bandara Hang Nadim. Sejumlah penumpang sempat tertahan di ruang kedatangan karena tidak ada taksi.

    Akibatnya, pihak bandara terpaksa mendatangkan 10 unit bus untuk mengangkut para penumpang. 10 bus itu terdiri dari 5 unit Damri, 3 unit BPP, 1 unit bus OB dan 1 unit bus bandara. ”Mulai 11.30 sampai 13.30 nanti ada 400 penumpang tiba di Hang Nadim. Kami harus melakukan antisipasi untuk transportasi,” kata Humas Bandara Hang Nadim, Hendrawan.

    Sayangnya, layanan transportasi ini hanya menjangkau beberapa lokasi. Antara lain Nagoya, Batuaji, Batam Centre dan Simpang Kabil. Akibatnya sejumlah penumpang dengan rute lainnya sempat terlantar. ”Saya hampir dua jam di sini, mau ke punggur tak ada taksi,” kata Umar, warga Tanjungpinang yang hendak menyeberang melalui Pelabuhan Telaga Punggur.
    Nyaris Ricuh

    Aksi mogok ini sempat diwarnai kericuhan kecil. Para supir yang marah sempat mengusir kelima armada taksi baru saat parkir dan mencoba menaikkan penumpang di depan pintu kedatangan. Namun kemarahan para supir reda setelah petugas kepolisian berjanji akan melarang kelma taksi tersebut naik ke lokasi. Beberapa taksi luar bandara pun tak luput dari aksi para supir.

    Mereka yang mencoba menaikkan penumpang langsung diserang dan dihalangi. Tak hanya itu, salah satu staf Organda, Irman Z, nyaris menjadi korban amuk massa. Irman dituding menjadi salah satu aktor di balik kisruh taksi bandara tersebut. Apalagi, saat itu Irman meminta taksinya tetap beroperasi dan tidak ikut mogok.

    Ketua FKPTPB, Ardi Oyong, mengancam akan melakukan aksi mogok ini selama tiga hari jika tidak ada tanggapan dari pihak bandara. Ia mengatakan, selama ini pihaknya tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan terkait rencana penambahan taksi bandara. Bahkan, kata Ardi, sebelumnya pihak pengelola berjanji tidak akan ada penambahan taksi. “Sanksi KPPU itu hanya akal-akalan pengelola bandara, supaya mereka bisa memasukkan taksi baru,” kata Ardi.
    Namun pernyataan ini dibantah Kepala Bandara Hang Nadim, Hendro Harijono. Menurut Hendro, selama ini seluruh pihak dilibatkan dalam setiap rapat. (a)

    =========================

    Harusnya Bandara A. Yani Semarang juga kena sanksi seperti ini…

  2. احمد عبد الحق Says:

    Atas dasar apa perusahaan taksi tersebut bisa memonopoli lahan publik di bandara Ahmad Yani?
    Dasarnya sudah ada backing yang kuat.
    http://kotasemarang.multiply.com/photos/album/50/Monopoli_Taksi_Bandara

  3. Titot Andrianto Says:

    mungkin karena penumpang di semarang tidak sebanyak di jkt,jd persaingan di bisnis ini kurang ketat

Komentar ditutup.


%d blogger menyukai ini: