Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim


Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain — kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

oleh: Yusuf Iskandar
Kanal: Gaya Hidup di situs Wikimu.com

Tag:


%d blogger menyukai ini: